Seribu Rasa Kelapa: Buah Istimewa yang Merajut Tradisi Kuliner Pontianak
Kelapa menjadi salah satu buah yang paling lekat dengan identitas kuliner Pontianak. Banyak hidangan tradisional di kota ini tak lepas dari sentuhan kelapa, baik berupa santan yang gurih, parutan yang lembut, maupun gula merah hasil olahan nira kelapa.
Kekayaan alam Kalimantan Barat yang subur membuat pohon kelapa mudah tumbuh dan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat. Lebih dari sekadar bahan masakan, kelapa juga punya nilai budaya karena kerap hadir dalam acara adat dan perayaan masyarakat Melayu. Ditambah dengan rasa gurih-manis yang khas, tak heran kelapa selalu jadi bintang utama dalam kuliner Pontianak.
Kalau bicara makanan tradisional berbahan dasar kelapa, pengkang jadi salah satu yang paling ikonik. Dahulu makanan ini kerap dijadikan bekal berburu atau pergi ke ladang karena mengenyangkan dan tahan lama.

Dalam tradisi masyarakat Melayu, pengkang kerap dijadikan makanan saat perayaan adat atau kenduri. Proses pembuatannya mirip dengan lemper. Beras ketan dikukus hingga matang, lalu dicampur dengan santan hingga pulen dan gurih. Isian pengkang cukup beragam—mulai dari parutan kelapa yang dimasak dengan gula aren untuk cita rasa manis, hingga ebi dan sambal kepahyang populerdidaerah pesisir. Setelah itu, ketan dibentuk segitiga, dibungkus daun pisang, lalu dijepit dengan bambu kecil sebelum dibakar hingga harum berasap
Keistimewaan pengkang ada pada perpaduan ketan gurih dengan isian manis atau asin yang menciptakan sensasi rasa unik. Kini di era kuliner modern, inovasi pun bermunculan. Banyak orang membuat pengkang dengan beragam isian seperti daging ayam, sapi, hingga tuna, menghadirkan pengalaman kuliner baru tanpa menghilangkan jejak tradisinya. Ini juga menjadi bukti kekayaan kuliner Pontianak yang terus berkembang.
Dari sajian gurih, beralih ke kudapan manis, ada gula gentar yang tak kalah melegenda. Camilan ini sudah dikenal secara turun-temurun dan kerap disebut kembang gula kelapa atau dodol kelapa. Dahulu, gula gentar sering dibuat oleh ibu-ibu di rumah karena bahannya sederhana dan mudah didapat.

Terbuat dari parutan kelapa yang dicampur gula pasir, tepung terigu, dan pewarna, gula gentar biasanya dibentuk memanjang atau dipotong kecil-kecil dengan warna cerah yang menarik. Teksturnya agak kasar namun tetap renyah, dengan perpaduan rasa manis dan gurih khas kelapa. Camilan ini sering hadir sebagai suguhan dalam berbagai acara adat atau kumpul keluarga. Rasanya yang khas membuat siapa saja mudah ketagihan.
Selain camilan, kelapa juga hadir dalam masakan berat yang menggugah selera, salah satunya gulai umbut kelapa. Sajian ini mirip dengan ketupat sayur atau sayur rebung, tetapi menggunakan bahan utama berupa umbut kelapa atau tunas kelapa muda yang teksturnya lembut sekaligus renyah.
Gulai ini dimasak dengan kuah santan kental dan bumbu rempah khas Melayu, menghasilkan cita rasa gurih dengan sentuhan manis alami dari umbutnya. Biasanya disantap bersama lontong atau ketupat, membuatnyajadi hidangan yang mengenyangkan sekaligus kaya rasa.
Dahulu, gulai umbut kelapa dianggap istimewa karena untuk mendapatkannya harus menebang satu pohon kelapa, karena tunas muda berada di tengah batang kelapa. Itulah sebabnya masakan ini hanya hadir pada perayaan khusus. Kini gulai umbut kelapa lebih mudah ditemui, dengan berbagai variasi seperti ayam, telur, atau seafood. Meski demikian, sajian ini tetap istimewa tanpa menghilangkan kekhasan tradisinya.
Kalau ingin sesuatu yang lebih manis dan lembut, bingke kelapa muda bisa jadi pilihan. Kue berbentuk bunga mekar ini sudah lama identik dengan Ramadan karena kerap dijadikan takjil maupun oleh-oleh khas Lebaran.

Terbuat dari campuran telur, gula, santan, dan tepung, bingke punya rasa legit dan aroma khas dari proses pemanggangan tradisional. Tambahan serutan kelapa muda membuat teksturnya semakin
istimewa, lembut sekaligus kenyal dalam satu gigitan.
Selain berakar dari warisan lokal, kuliner berbahan kelapa di Pontianak juga diperkaya oleh pengaruh budaya lain, salah satunya doko-doko berendam. Kue tradisional Bugis-Makassar ini ikut meramaikan kuliner Pontianak melalui jalur perantauan. Kehadiran komunitas Bugis di Pontianak membuat jajanan basah tersebut dikenal luas, hingga akhirnya menjadi bagian dari ragam kuliner khas yang mudah dijumpai di pasar tradisional.

Camilan ini berbentuk bola kecil berisi unti kelapa manis—parutan kelapa dimasak bersama gula merah atau gula pasir dengan aroma pandan. Bedanya dengan versi Bugis, di Pontianak doko-doko disajikan dengan kuah santan kental yang gurih. Teksturnya kenyal dari tepung ketan, sementara siraman santan memberi sensasi lembut yang membuat kue ini makin istimewa saat disantap. Kehadiran kudapan ini menunjukkan betapa kuliner Pontianak terbuka dengan ragam tradisi, namun tetap memberi sentuhan khas pada cita rasanya.
Sebagai penutup, ada bubur pedas yang kaya akan makna dan tradisi. Hidangan ini sering disajikan dalam acara adat, buka puasa, hingga peringatan hari besar sebagai simbol rasa syukur dan kebersamaan. Keistimewaan bubur pedas Pontianak ada pada campuran kelapa sangrai yang menjadi ciri khasnya.

Parutan kelapa yang disangrai hingga kecokelatan memberi aroma harum, rasa gurih, dan sensasi renyah yang berpadu dengan bubur kaya rempah. Dipadu dengan aneka sayuran, kacang tanah, serta bumbu khas Melayu, perpaduan rasa ini membuat bubur pedas tak pernah kehilangan penggemarnya.
Dari camilan manis hingga hidangan berat, kelapa benar-benar menunjukkan sejuta rasa dalam kuliner khas Pontianak. Setiap olahan menghadirkan cerita tradisi sekaligus kekayaan rasa yang membuatnya begitu istimewa. Tak heran, kelapa bukan hanya sekadar bahan makanan, tapi juga bagian penting dari identitas kuliner Pontianak yang patut dibanggakan.