Caramu Sendiri
Kesalahanmu sederhana: kamu ingin dimengerti. Padahal, siapa yang benar-benar bisa mengerti siapa? Naif. Bodoh.
Kamu lahir dengan kutukan: terlalu peduli, tapi tak diizinkan larut dalam melankoli. Ceritamu dianggap beban, keraguanmu dijadikan penghakiman.
Beban untuk mereka. Penghakiman untuk dirimu sendiri.
Maka kamu diam.
Kutukan itu tak pergi. Ia duduk bersamamu di sisi meja, di antara kopi dingin dan cokelat panas, mengintip dari cerita-cerita remeh yang kamu keluarkan hanya untuk menyingkirkan sedikit tekanan di dada.
Kamu mencoba tertawa. Ha ha. Ha ha ha.
Dan pandangan mereka itu, tajam, seolah kamu aneh.
Kamu dicap:
(a) aneh, (b) melankolis, (c) manja, (d) terlalu butuh dipahami, (e) atau semuanya sekaligus.
Omong kosong, pikirmu. Tapi jauh di dalam kamu tahu: siapa suruh bicara hal-hal tak seharusnya? Siapa suruh meluapkan yang tak perlu?
Kamu memang bodoh.
Dengar baik-baik: kamu bodoh, bebal, dan entah kenapa masih berharap bisa dimengerti.
Tapi tidak akan ada yang datang. Tidak ada yang menolong. Semua luka, semua masalah, adalah urusanmu sendiri.
Selesaikan dengan caramu sendiri.
Jangan pernah berharap ada tangan yang terulur.
Karena kamu laki-laki, dan katanya, laki-laki harus bisa semua.
Bangun, bocah. Dunia tidak menunggu.