by VALSZE
Memuat data dari server...
Top

Ich habe rindu…

Ich habe rindu…

“Ich habe rindu,” kubilang sambil tersenyum. Namun jawabnya datar, “Du hast Sehnsucht.”

Aku tertawa kecil dalam hati, ternyata gurauanku tidak mengena. Aku coba menggabungkan kata dalam bahasaku dengan bahasanya, dia mengoreksinya dengan gamblang. Aku cuma bisa tersenyum, karena bagiku kata itu lebih dalam dari sekadar “kangen”.

Dia datang, belajar bahasaku. Mengikuti langkahku menelusuri kota ini yang penuh cerita. Bersamaku menjelajah sudut-sudut kota ini, sambil bermimpi bisa naik motor matic, suatu hari nanti.

Bercanda? Kadang sulit di antara kita. Budaya berbeda, makna lain di balik kata dan nada. Matanya, biru, dalam, kadang kosong menatap jauh, seakan mencari jawaban dari pertanyaan yang tak pernah terucap.

Aku menuntunnya dengan lembut, selalu di sisinya, tak tega membiarkan dia sendiri, walau dia sudah kuat dan mungkin malah menikmati tersesat, berani melangkah tanpa peta.

Ketika dia pulang, aku merasa ada yang hilang dari hidupku. Langit menangis deras ketika aku pulang dari bandara, seolah turut merasakan perpisahan ini. Tertegun ketika sampai di rumah, masih berharap dia ada di kamar itu, sesekali keluar untuk hal-hal kecil, dan tersenyum ketika melihatku, seolah semua ini cuma sebuah mimpi.

Andai waktu bisa kembali berputar, aku ingin sekali lagi berpetualang bersamanya di kota ini, menjelajah jalanan yang penuh cerita, berbagi tawa dan canda. Tapi waktu dan hidup terus berjalan, tanpa menungguku sembuhkan perih yang dalam ini.

Aku cuma bisa menghela napas berat… Ich habe rindu… Dan kunikmati rindu yang datang membunuhku. Untukmu seluruh nafas ini