by VALSZE
Memuat data dari server...
Top

Fall and Learn

Fall and Learn

\2

Why do we fall, Bruce? So that we can learn to pick ourselves up.” – Thomas Wayne

Oke, tapi bagaimana dengan “Why do we fall in love and left brokenhearted?” Jariku terhenti. Mungkin kita jatuh cinta dan kadang terluka agar kita belajar tentang diri sendiri, tentang ketulusan, tentang kuatnya hati yang pernah rapuh, dan betapa berharganya koneksi antarmanusia. Patah hati memang sakit, tapi hanya dengan merasakannya, kita tahu betapa dalamnya cinta itu sendiri.

\4
It’s your birthday, huh? Tentu aku ingat. Aware? Yes, I do. Care? Not anymore. Sudah 10 tahun aku rutin mengucapkan selamat ulang tahun, baik lewat messenger maupun wall. Tapi, sekarang saatnya aku move on. Toh, kamu juga tidak pernah mengucapkan selamat ulang tahun untukku, satu kalipun tidak pernah, selama 10 tahun ini.

\1

“Heey, Katrin!! Akhir-akhir ini kamu sepertinya kurang fokus. Ada apa? Kamu kangen dia ya?” Panggilan dari bosku sedikit mengagetkanku, dan aku hanya bisa tersenyum kecut.

It’s fine. Dia sudah pergi, dan pada akhirnya, kamu harus berdiri sendiri kan? Sudah kubilang jangan pakai hati, kamu malah pakai jantung.” Pak bos mengejekku sambil duduk di depan mejaku.

“Rin, bagaimana kalau untuk beberapa bulan ke depan, posisimu aku geser. Kamu sudah ikut aku beberapa tahun, dan aku tahu kemampuanmu. Tapi saat ini, kamu butuh penyegaran. Jadi sampai akhir tahun ini, kamu ikut tim marketing saja dalam negosiasi dan monitoring terhadap apa yang sudah kita capai dalam beberapa tahun ke belakang. Posisimu sementara digantikan sama “S” saja. Bulan depan kita ke Seoul dan Pontianak ya?”

Aku memandangnya dengan bingung dan heran…

\3

“Bip”

Sebuah email masuk ke inbox Gmail-ku ketika aku sedang menonton serial lewat Jellyfin. Aku sedikit terhenyak, ada yang mengisi contact form dari website ini. Intinya isi form ini mengatakan jika website ini terlalu lambat dibuka dari mobile device. Aku termangu. Karena sejujurnya aku membuat website ini hanya tempat untuk menuangkan semua masalah yang tidak bisa aku sampaikan ke orang lain. Tapi karena ada yang membaca, tidak ada salahnya aku meneliti kecepatan website ini dimuat lewat mobile.

Aku terkejut. Karena skor dari situs ini hanyalah 30/100 di PageSpeed Insights. Skor yang sungguh memalukan, dan Largest Contentful Paint mencapai 22 detik. Hah? Apa ada orang yang sebegitu sabarnya menunggu 22 detik hanya untuk membaca isi website tidak berguna ini?

Aku tidak punya pilihan lain kecuali meminify semua JavaScript dan CSS, serta meletakkan semua media di Google Drive. Hasilnya agak lumayan, meskipun tidak begitu bagus. Tapi ada perubahan. Dan aku pindahkan server website ini ke Arwen di Amsterdam. Jauh dariku, dekat dengannya…

\5

“Rin, kamu masih punya kontak orang Jerman yang itu?”

Hä? Pikiran saya langsung tertuju padanya. Dan nampaknya bos saya satu ini langsung menyadari kesalahannya.

“Oh, maaf, bukan yang itu. Tetapi yang seniman yang tinggal di Piyungan. Aku mau mengajaknya berkolaborasi dengan menyelenggarakan eksibisi di artspaceku”

Aku mengutuk pelan dalam hati. Seandainya orang tidak kenal bos saya, sudah pasti orang akan mengira kalau dia melakukan money laundry. Begitu banyak ide dan usaha sampingannya, jarang yang bertahan lama. Dia terkesan membuang-buang uang begitu saja.

“Masih, kontak sekarang?”

“Kalau bisa, bagus. Buat janji ketemu malam ini di artspace ya?”

Aku cuma mengangguk dan menggali ke dalam Google Contacts. Frau “F”, wanita seniman kelahiran Rostock yang sudah tinggal di negara ini selama 12 tahun. Bertemu tidak sengaja ketika saya mengunjungi museumnya di bagian timur kota ini.

Tampaknya, hari ini akan menjadi hari yang lumayan sibuk.