Katarina, Peri dan Kurcaci
(Katarina, the Fairy and the Dwarf)
“Katarina, die Fee und der Zwerg“
Di Kerajaan Eldoria yang selalu disinari matahari hangat, hiduplah Katarina, seorang putri kecil dengan mata bening yang memantulkan kejujuran. Ibunya, Sang Ratu, dikenal di seluruh penjuru negeri bukan hanya karena kecantikannya, melainkan karena kebijaksanaannya yang tajam bak pedang namun lembut bagai sutra.
(In the kingdom of Eldoria, which was always bathed in warm sunlight, there lived Katarina, a little princess with clear eyes that reflected honesty. Her mother, the Queen, was known throughout the land not only for her beauty, but also for her wisdom, as sharp as a sword yet as gentle as silk.)
“Im Königreich Eldoria, das stets von warmem Sonnenlicht durchflutet wurde, lebte Katarina, eine kleine Prinzessin mit klaren Augen, in denen sich Aufrichtigkeit widerspiegelte. Ihre Mutter, die Königin, war im ganzen Land nicht nur für ihre Schönheit bekannt, sondern auch für ihre Weisheit, scharf wie ein Schwert und doch sanft wie Seide.”
Bagi rakyat, Ratu adalah pelindung. Namun bagi Katarina, ibunya adalah standar kemustahilan yang harus ia capai.
Setiap kali Katarina melihat ibunya duduk di singgasana, menyelesaikan perselisihan rakyat dengan senyum tenang, hati kecilnya menciut. Ia sering memandang bayangannya sendiri di cermin besar kamarnya, mencoba mengenakan mahkota ibunya yang terlalu besar. Mahkota itu selalu merosot menutupi matanya.
(For the people, the Queen was a protector. But for Katarina, her mother was the standard of impossibility she had to reach.
Every time Katarina saw her mother sitting on the throne, resolving the people’s disputes with a calm smile, her little heart would shrink. She often gazed at her own reflection in the large mirror of her room, trying on her mother’s crown which was too big. The crown always slipped down, covering her eyes.)
“Für das Volk war die Königin eine Beschützerin. Doch für Katarina war ihre Mutter der Maßstab des Unmöglichen, den sie erreichen musste.
Immer wenn Katarina ihre Mutter auf dem Thron sitzen sah, wie sie die Streitigkeiten des Volkes mit einem ruhigen Lächeln löste, zog sich ihr kleines Herz zusammen. Sie blickte oft in ihrem Zimmer in den großen Spiegel, versuchte die Krone ihrer Mutter aufzusetzen, die viel zu groß war. Die Krone rutschte immer herunter und bedeckte ihre Augen.”
“Aku terlalu kecil,” bisiknya pada cermin. “Aku ceroboh dan suka menangis. Bagaimana mungkin aku bisa menjadi seperti Ibu?”
Pikiran itu tumbuh menjadi awan mendung di kepalanya. Katarina yang dulu riang mulai menarik diri. Ia jarang berlarian di taman istana. Senyumnya memudar, digantikan oleh tatapan kosong yang penuh kekhawatiran akan masa depan yang belum terjadi.
(“I am too small,” she whispered to the mirror. “I am clumsy and I cry a lot. How could I ever be like Mother?”
That thought grew into a dark cloud in her head. The once cheerful Katarina began to withdraw. She rarely ran in the palace garden. Her smile faded, replaced by an empty gaze full of worry about a future that had not yet come.)
“”Ich bin zu klein”, flüsterte sie zum Spiegel. “Ich bin tollpatschig und weine oft. Wie könnte ich jemals so sein wie Mutter?”
Dieser Gedanke wuchs zu einer dunklen Wolke in ihrem Kopf heran. Die einst fröhliche Katarina begann sich zurückzuziehen. Sie rannte selten im Schlossgarten herum. Ihr Lächeln verblasste und wurde durch einen leeren Blick ersetzt, voller Sorge um eine Zukunft, die noch nicht eingetreten war.“
Panggilan Sang Ibu
Sang Ratu, dengan naluri keibuannya, merasakan perubahan itu. Ia tidak membutuhkan laporan dari penasihat untuk tahu bahwa hati putrinya sedang terluka oleh ekspektasi.
Suatu sore, alih-alih memberikan pelajaran tata negara atau etika, Sang Ratu membawa Katarina ke balkon istana.
(The Call of the Mother
The Queen, with her maternal instinct, sensed the change. She did not need reports from advisors to know that her daughter’s heart was hurting from expectations.
One afternoon, instead of giving lessons on governance or etiquette, the Queen took Katarina to the palace balcony.)
“Der Ruf der Mutter
Die Königin spürte die Veränderung mit ihrem mütterlichen Instinkt. Sie brauchte keine Berichte von Beratern, um zu wissen, dass das Herz ihrer Tochter von Erwartungen verletzt war.
Eines Nachmittags brachte die Königin Katarina, anstatt Unterricht in Staatsführung oder Etikette zu geben, auf den Balkon des Palastes.“
“Katarina,” ucap Ratu lembut, “Dunia ini terlalu luas untuk kau pikul sendirian di pundak kecilmu sekarang. Biarkan Ibu meminjamkanmu sedikit keajaiban.”
Sang Ratu menepuk tangannya tiga kali ke arah hutan terlarang. Dari balik kabut ungu, muncullah Lumina, sesosok Peri dengan sayap capung yang berkilauan, dan Brum, seorang Kurcaci bertubuh gempal dengan janggut yang dikepang rapi.
“Bawalah dia,” perintah Ratu dengan senyum penuh arti. “Bukan untuk belajar menjadi Ratu, tapi untuk belajar menjadi anak-anak kembali.”
(“Katarina,” the Queen said softly, “This world is too vast for you to carry alone on your small shoulders right now. Let Mother lend you a bit of magic.”
The Queen clapped her hands three times toward the forbidden forest. From behind a purple mist appeared Lumina, a fairy with shimmering dragonfly wings, and Brum, a stout dwarf with a neatly braided beard.
“Take her,” the Queen commanded with a meaningful smile. “Not to learn to be a Queen, but to learn to be a child again.”)
“”Katarina,” sagte die Königin sanft, “Diese Welt ist jetzt zu groß für dich, um sie allein auf deinen kleinen Schultern zu tragen. Lass mich dir ein wenig Magie leihen.”
Die Königin klatschte dreimal in ihre Hände in Richtung des verbotenen Waldes. Hinter dem purpurnen Nebel erschienen Lumina, eine Fee mit schimmernden Libellenflügeln, und Brum, ein stämmiger Zwerg mit einem ordentlich geflochtenen Bart.
“Nimm sie mit,” befahl die Königin mit einem bedeutungsvollen Lächeln. “Nicht um zu lernen, eine Königin zu sein, sondern um wieder Kind zu sein.””
Petualangan di Negeri Imajinasi
Lumina menaburkan serbuk bintang, dan seketika itu juga, lantai balkon berubah menjadi perosotan pelangi. Katarina menjerit, bukan karena takut, tapi karena kaget bercampur gembira. Mereka meluncur turun menembus batas realitas menuju Dunia Imajinasi.
Di sana, hukum alam tidak berlaku.
(Adventure in the Land of Imagination
Lumina sprinkled stardust, and instantly, the balcony floor transformed into a rainbow slide. Katarina screamed, not out of fear, but from surprise mixed with joy. They slid down, piercing the boundary of reality toward the Land of Imagination.
There, the laws of nature do not apply.)
“Abenteuer im Land der Fantasie
Lumina streute Sternenstaub und im selben Moment verwandelte sich der Balkonboden in eine Regenrutschbahn. Katarina schrie, nicht aus Angst, sondern vor Überraschung gemischt mit Freude. Sie rutschten hinunter und durchbrachen die Grenze der Realität in das Land der Fantasie.
Dort gelten die Gesetze der Natur nicht.”
Brum si Kurcaci mengajak Katarina ke Hutan Jamur Raksasa. Di sana, Brum menunjukkan bagaimana ia memahat batu.”Lihat, Tuan Putri,” kata Brum saat salah memukul batu hingga pecah tak beraturan. “Aku salah memukul. Tapi lihatlah…” Pecahan itu justru membentuk pola bunga yang indah.”Kesalahan bukanlah akhir dunia, tapi awal dari bentuk baru,” ujar Brum tertawa. Katarina ikut tertawa, tawa pertamanya setelah sekian lama, menyadari bahwa menjadi tidak sempurna itu menyenangkan.
(Brum the dwarf took Katarina to the Giant Mushroom Forest. There, Brum showed her how he carved stone. “Look, Princess,” said Brum as he struck the stone the wrong way and it broke into uneven pieces. “I hit it wrong. But look…” The pieces actually formed a beautiful flower pattern. “A mistake isn’t the end of the world, but the beginning of a new shape,” Brum said with a laugh. Katarina laughed too, her first laugh in a very long time, realizing that being imperfect could be fun.)
“Brum der Zwerg nahm Katarina mit in den Riesenchampignonwald. Dort zeigte Brum ihr, wie er Steine meißelte. “Schau, Prinzessin”, sagte Brum, als er den Stein falsch traf und er unregelmäßig zerbrach. “Ich habe falsch geschlagen. Aber schau…” Die Bruchstücke bildeten tatsächlich ein wunderschönes Blumenmuster. “Ein Fehler ist nicht das Ende der Welt, sondern der Anfang einer neuen Form”, lachte Brum. Katarina lachte mit – ihr erstes Lachen seit langer Zeit – und erkannte, dass es Freude macht, nicht perfekt zu sein.”
Kemudian, Lumina si Peri membawanya terbang melintasi Danau Awan.”Kau takut jatuh, Katarina?” tanya Lumina.”Sangat takut,” jawab Katarina gemetar.”Kalau begitu, jangan melihat ke bawah. Lihatlah ke depan, ke mana kau ingin pergi.”
Saat Katarina memberanikan diri menatap cakrawala, ia melihat pemandangan menakjubkan yang tak akan terlihat jika ia hanya sibuk menatap kakinya yang gemetar.
(Then, Lumina the fairy took her flying across the Cloud Lake. “Are you afraid of falling, Katarina?” asked Lumina. “Very afraid,” Katarina answered trembling. “Then, don’t look down. Look forward, where you want to go.”
When Katarina dared to look at the horizon, she saw an amazing view that she wouldn’t see if she was only busy watching her trembling feet.)
“Dann nahm Lumina, die Fee, sie mit auf einen Flug über den Wolkensee. “Hast du Angst zu fallen, Katarina?“ fragte Lumina. „Sehr viel Angst“, antwortete Katarina zitternd. “Dann schau nicht nach unten. Schau geradeaus, wohin du gehen möchtest.“
Als Katarina es wagte, den Horizont anzusehen, sah sie eine erstaunliche Aussicht, die sie nicht gesehen hätte, wenn sie nur auf ihre zitternden Füße geachtet hätte.”
Mereka bermain petak umpet dengan angin, melukis langit senja dengan warna-warna yang belum pernah ada, dan berlomba lari dengan kelinci cahaya. Di dunia ini, Katarina lupa bahwa ia adalah calon Ratu. Ia hanyalah Katarina, gadis kecil yang suka tertawa dan takjub pada hal-hal sederhana.
(They played hide and seek with the wind, painted the twilight sky with colors never seen before, and raced the light rabbits. In this world, Katarina forgot that she was a future Queen. She was just Katarina, a little girl who loved to laugh and marvel at simple things.)
“Sie spielten Verstecken mit dem Wind, malten den Abendhimmel mit Farben, die es zuvor nie gegeben hatte, und lieferten sich Wettrennen mit den Lichtkaninchen. In dieser Welt vergaß Katarina, dass sie eine zukünftige Königin war. Sie war einfach Katarina, ein kleines Mädchen, das gerne lachte und sich an einfachen Dingen erfreute.”
Kepulangan dan Dekapan Ratu
Ketika matahari mulai terbenam di dunia nyata, Lumina dan Brum mengantar Katarina kembali. Mereka mendarat lembut di kamar tidur sang Putri.
Sang Ratu sudah menunggu di tepi tempat tidur. Wajah Katarina kini merona merah, matanya kembali berbinar, meski napasnya terengah-engah sisa tertawa.
Katarina berlari dan memeluk ibunya erat-erat. Namun, tiba-tiba rasa takut itu muncul lagi sedikit. “Ibu… tadi aku sangat bahagia. Tapi, aku masih takut. Apakah aku bisa menjadi Ratu hebat sepertimu?”
(The Return and Embrace of the Queen
When the sun started to set in the real world, Lumina and Brum took Katarina back. They landed softly in the princess’s bedroom.
The Queen was already waiting at the edge of the bed. Katarina’s face was now flushed, her eyes sparkled again, despite her breath still heaving from laughter.
Katarina ran and hugged her mother tightly. But suddenly, that fear came back a little. “Mom… I was very happy just now. But I’m still afraid. Can I become a great Queen like you?”)
“Rückkehr und Umarmung der Königin
Als die Sonne in der wirklichen Welt zu sinken begann, begleiteten Lumina und Brum Katarina zurück. Sie landeten sanft im Schlafzimmer der Prinzessin.
Die Königin wartete bereits am Bett. Katarinas Gesicht war jetzt gerötet, ihre Augen funkelten wieder, obwohl ihr Atem noch vom Lachen schwer war.
Katarina rannte und umarmte ihre Mutter fest. Doch plötzlich kam diese Angst ein wenig zurück. “Mutter… ich war vorhin so glücklich. Aber ich habe immer noch Angst. Kann ich eine so großartige Königin wie du sein?“”
Sang Ratu membalas pelukan itu, mendekap putrinya ke dalam kehangatan yang paling aman di dunia.
“Katarina sayang,” bisik Ratu sambil membelai rambut putrinya. “Lihatlah Brum dan Lumina. Mereka berbeda, bukan? Peri tidak bisa memahat batu, dan Kurcaci tidak bisa terbang. Tapi mereka sempurna dengan cara mereka sendiri.”
(The Queen returned the hug, holding her daughter within the safest warmth in the world.
“Katarina dear,” the Queen whispered while stroking her daughter’s hair. “Look at Brum and Lumina. They are different, aren’t they? The fairy can’t carve stone, and the dwarf can’t fly. But they are perfect in their own way.”)
“Die Königin erwiderte die Umarmung und hielt ihre Tochter in die sicherste Wärme der Welt.
“Katarina, mein Schatz,“ flüsterte die Königin und streichelte das Haar ihrer Tochter. “Sieh dir Brum und Lumina an. Sie sind verschieden, nicht wahr? Die Fee kann keinen Stein meißeln, und der Zwerg kann nicht fliegen. Aber sie sind auf ihre eigene Weise perfekt.“”
Ratu menatap mata putrinya dalam-dalam.
“Kau tidak perlu menjadi aku. Kerajaan ini tidak butuh tiruan dari Ratu yang sekarang. Kelak, mereka akan membutuhkan Katarina. Dengan kepolosanmu, dengan caramu tertawa, dan dengan caramu melihat dunia. Kau akan memimpin dengan hatimu sendiri, bukan dengan bayanganku.”
(The Queen looked deeply into her daughter’s eyes.
“You don’t need to be me. This kingdom doesn’t need a copy of the current Queen. Someday, they will need Katarina. With your innocence, your way of laughing, and your way of seeing the world. You will lead with your own heart, not with my shadow.”)
“Die Königin sah ihrer Tochter tief in die Augen.
“Du musst nicht ich sein. Dieses Königreich braucht keine Kopie der jetzigen Königin. Eines Tages werden sie Katarina brauchen. Mit deiner Unschuld, deiner Art zu lachen und deiner Art, die Welt zu sehen. Du wirst mit deinem eigenen Herzen führen, nicht mit meinem Schatten.“”
Mendengar itu, beban berat di dada Katarina seakan terangkat. Ia menyadari bahwa masa depan memang masih jauh, tapi ia tidak menjalaninya sendirian. Ada keajaiban imajinasi yang menjaganya tetap ceria, dan ada cinta Ibu yang menjadi pondasinya.
Malam itu, Katarina tidur dengan nyenyak. Bukan sebagai calon penguasa yang gelisah, melainkan sebagai seorang anak yang tahu bahwa dirinya dicintai apa adanya.
(Hearing that, the heavy burden on Katarina’s chest seemed to lift. She realized that the future was still far away, but she was not facing it alone. There was the magic of imagination keeping her cheerful, and there was a Mother’s love as her foundation.
That night, Katarina slept soundly. Not as an uneasy future ruler, but as a child who knows she is loved just as she is.)
“Als sie das hörte, schien die schwere Last auf Katarinas Brust zu heben. Sie erkannte, dass die Zukunft noch weit entfernt war, aber sie musste sie nicht alleine angehen. Da war die Magie der Vorstellung, die sie fröhlich hielt, und die Liebe der Mutter, die ihr Fundament bildete.
In dieser Nacht schlief Katarina tief und fest. Nicht als unruhige zukünftige Herrscherin, sondern als ein Kind, das weiß, dass es so geliebt wird, wie es ist.”
Berdasarkan lagu dari Nona Sepatu Kaca – Katarina, Peri dan Para Kurcaci
(Based on the song by Nona Sepatu Kaca – Katarina, the Fairy and the Dwarfs)
Basierend auf dem Lied von Nona Sepatu Kaca – Katarina, die Fee und die Zwerge