Satu Minggu, di Akhir November
Dalam satu minggu ini, ada begitu banyak kejadian yang sangat menguras emosi dan air mata, tapi aku ringkas secara garis besar satu persatu saja.
1\
Pak A meninggal dunia. Semua makhluk hidup pada akhirnya pasti akan meninggal. Kita tidak akan pernah tahu kapan, dan kita tidak akan pernah siap meskipun kita tahu kapan kita akan meninggal. Baru kemarin beliau memintaku untuk memasukkan film Greyhound ke dalam server Jellyfin. Dan saat ini, aku menatap username beliau. Tidak akan pernah ada aktivitas lagi dari user ini di dalam server Jellyfin. Requiescat in pace. Sampai kita bertemu kembali, Pak A.
2\
Aku menatap pada satu username. Sudah lama aku tidak masuk ke control panel user Jellyfin ini, karena kupikir aku tidak mau melihat username ini lagi, tapi kematian Pak A membuatku harus melakukan pruning pada user. Terakhir aku melihat username ini masih memiliki profile picture. Tetapi, sekarang sudah tidak ada lagi. Terakhir kali login adalah satu bulan lalu. Tampaknya dia hanya login untuk menghapus profile picturenya. Apakah aku harus mengembalikan profile picture miliknya? Apakah dia akan pernah kembali login ke server ini? Aku bisa saja memaksakan username ini untuk memiliki profile picture. Tapi, is it worth my time and heart? Hanya untuk melihat fotonya di dalam username? Hanya untuk satu username yang mungkin tidak akan pernah aku lihat login kembali?
3\
Hari ini aku kembali bertemu Frau Franziska Fennert, seorang seniman yang lahir di Rostock, Jerman Timur. Beliau menempuh pendidikannya hingga memperoleh gelar Master of Arts dari Dresden University of Fine Arts. Tinggal di Indonesia sejak 2013 dan mendirikan Monumen Antroposen, beliau primarily bekerja dengan objek yang dijahit dan juga lukisan, untuk ketenangan hati dan memulihkan diri dari Wendetrauma (Unifikasi Jerman) yang mengguncang keluarganya dan secara tidak langsung menyebabkan ayahnya meninggal beberapa tahun kemudian. Kami bicara tentang makna hidup dan panggilan hati. Tentang kenapa tinggal di Indonesia, bukan yang lain. Dan kenapa Yogyakarta, bukan kota lain. Beliau benar-benar sosok sederhana dan yah, benar-benar Indonesia…
4\
Siang ini, salah satu playlist Spotify-ku berubah menjadi private. Akhirnya hari ini tiba juga, dimana dia menarik diri dari playlist ini. Aku maklum. Di pikiranku, aku sudah seperti Cloud dari Final Fantasy VII Advent Children yang ditinggal pergi Aerith (plus kekasihnya). Kupikir memang sudah saatnya dia pergi kan? Tidak ada lagi yang tersisa di sini. Semua sudah asing. Dan dia akan melupakan kami. Melupakan tempat ini, dan melupakan kamar ini. Tapi, semua akan baik-baik saja, karena kami tidak sendiri.
5\
“S” bilang ‘ayolah kita main game saja, kulihat mukamu butek sekali’. Bos nimbrung ‘game apa? Mbok ya aku diajarin’. Jadilah kami mendownload Ragnarok Online. Game dari masa kami kuliah dulu. It’s fun, actually
6\
Aku sedikit mengubah tampilan dari frontpage situs ini dengan sedikit sentuhan CSS. Tidak akan terlihat jika cuma dilihat melalui mobile devices. Update ticker Spotify, sehingga sekarang bisa menampilkan Jellyfin juga. Sekarang situs ini mendapat penilaian lebih baik dari PageSpeed Insight, bisa menyentuh angka 77-80 di Desktop dari tadinya sekitar 50 di Desktop dan 30 dari Mobile. Sedikit bangga dengan diriku sendiri, bisa bertahan sampai hari ini. Terima kasih untuk 1000++ views website ini dalam 28 hari. Siapapun kalian. Terima kasih.
7\
“Katarina, dengarkan aku, waktu tak lagi bisa menunggu lama
Segera kemasi lelahmu, Ratu t’lah menunggumu“
Hey, lagu siapa ini? Suara yang unik yang baru pertama kali kudengar, dan lagu yang menyebut namaku. Menarik. Dalam ke-random-an shuffle playku, aku disuguhi lagu ini. Suara vokal unik dan kuat, namun lembut. Tipe yang jarang kutemui selain Elda Suryani, vokalis eVo, dan sekarang Stars and Rabbit. Ternyata ini lagu milik Nona Sepatu Kaca, sebuah band dari Yogyakarta sendiri. Sepertinya aku perlu lebih mengenal musik dari kotaku sendiri. Tapi dalam versi ini, dia diperkuat oleh Febrina Claudya, vokalis Olski. Damn. Lagu ini lumayan membuatku kembali ke zaman aku kecil, lagu ceria tentang peri dan para kurcaci. Tampaknya lagu ini akan menjadi favoritku untuk beberapa waktu ke depan.