Festive Feasts: Celebrating Christmas and New Year
Natal dan Tahun Baru di Indonesia bukan hanya tentang cahaya lampu, nyanyian sukacita, dan kehangatan keluarga, melainkan juga tentang aroma dapur yang menggoda dan meja makan yang penuh warna.
Di negeri dengan ribuan pulau dan ragam budaya ini, setiap daerah memiliki cara sendiri untuk merayakan kebersamaan akhir tahun melalui makanan. Dari pedasnya masakan Manado hingga kelembutan kue tradisional Batak, setiap suapan menyimpan cerita tentang tradisi, makna, dan cinta.
Khusus menjelang Natal dan Tahun Baru 2026, berikut hidangan-hidangan yang sering hadir dalam perayaan Natal dan Tahun Baru di berbagai daerah Indonesia, masing-masing menyuguhkan karakter rasa dan filosofi khas yang memperkaya momen sukacita ini.
Bagi masyarakat Minahasa di Sulawesi Utara, Natal tak lengkap tanpa aroma pedas ayam rica-rica yang menggoda dari dapur. “Rica” dalam bahasa Manado berarti cabai, dan hidangan ini memang dikenal karena keberaniannya dalam menyajikan panas yang menyala di lidah. Daging ayam dimasak dengan bumbu cabai merah yang melimpah, dipadu bawang merah, bawang putih, jahe, serai, daun jeruk, dan perasan jeruk nipis yang memberi sentuhan segar.

Di sini, pedas bukan sekadar rasa melainkan lambang semangat hidup. Saat disajikan di meja Natal, ayam rica-rica menjadi simbol sukacita, semangat, dan kehangatan keluarga. Setiap suapan menggambarkan betapa kuatnya rasa kebersamaan di tengah kehidupan yang penuh tantangan. Dalam suasana perayaan, nasi putih hangat, sambal dabu-dabu, dan rica-rica yang merah menyala menciptakan harmoni yang mengikat semua anggota keluarga di satu meja panjang.
Masih dari Manado, ada satu lagi hidangan istimewa yang kerap menghiasi meja makan saat Natal dan Tahun Baru: ikan woku belanga. Nama “woku” merujuk pada bumbu khas yang terbuat dari campuran rempah segar, seperti daun jeruk, daun pandan, daun kemangi, serai, kunyit, dan cabai. Sementara itu, “belanga” berarti periuk tanah liat tempat masakan ini dimasak.

Ikan woku belanga diolah dengan rempah khas Manado seperti daun kemangi, serai, dan kunyit, menjadikannya sajian kaya rasa.
Ikan segar, seperti kerapu, kakap, atau tongkol dimasak bersama bumbu woku hingga harum menggoda. Perpaduan rasa pedas, gurih, dan segar menciptakan sensasi yang khas, yaitu pedas yang tidak membakar, tetapi menghangatkan. Hidangan ini menggambarkan kesederhanaan yang elegan: bahan-bahan alami, teknik memasak tradisional, dan cita rasa yang kompleks.
Dalam suasana Natal, aroma woku yang memenuhi rumah ibarat undangan tak resmi bagi tetangga, sahabat, dan kerabat untuk datang berkumpul. Karena di Manado, perayaan tak pernah eksklusif. Semua orang boleh datang, duduk, dan menikmati sajian bersama.
Di meja makan yang sama, hadir segelas es Manado sebagai penutup yang manis, segar, dan menenangkan, seperti ucapan syukur di penghujung tahun.

Es Manado memadukan alpukat, kelapa muda, nata de coco, dan kental manis, menonjolkan manisnya buah tropis yang menyegarkan.
Setelah seluruh hidangan berat disantap, tak ada yang lebih nikmat daripada semangkuk es Manado yang dingin dan menyegarkan. Minuman penutup khas Sulawesi Utara ini terbuat dari campuran alpukat, kelapa muda, nata de coco, dan susu kental manis. Kadang ditambahkan sirup merah atau potongan buah tropis, seperti nanas dan pepaya untuk menambah warna dan cita rasa.
Rasa manis dan lembut es ini menjadi penyeimbang sempurna bagi hidangan-hidangan pedas khas Manado, seperti rica-rica dan woku. Di tengah udara tropis yang hangat, semangkuk es Manado seolah menjadi simbol keseimbangan: bahwa hidup, termasuk makanan, membutuhkan harmoni antara panas dan sejuk, pedas dan manis, kerja keras dan istirahat.
Beranjak ke Pulau Jawa, suasana Natal dan Tahun Baru sering diwarnai oleh aroma khas ayam kodok, sajian klasik yang kerap dianggap sebagai simbol kemewahan dan kebersamaan keluarga. Meski namanya terdengar unik, ayam kodok sesungguhnya bukan terbuat dari kodok. Hidangan ini adalah ayam utuh yang telah dilepaskan tulangnya, kemudian diisi dengan campuran daging cincang, telur, roti tawar, dan rempah-rempah, sebelum dikukus dan dipanggang hingga kulitnya kecokelatan.
Proses pembuatannya yang rumit menjadikannya simbol ketelatenan dan cinta. Ayam kodok sering disiapkan jauh-jauh hari, melibatkan seluruh anggota keluarga: ada yang membersihkan ayam, mengisi adonan, hingga menyiapkan sausnya. Di kalangan keluarga urban, hidangan ini menjadi nostalgia masa kecil. Aroma ayam kodok mengingatkan pada ibu yang sibuk di dapur, aroma mentega dan lada hitam yang memenuhi rumah, dan tawa keluarga yang berkumpul menjelang tengah malam pergantian tahun.
Ayam kodok tidak hanya menyajikan rasa gurih yang lembut dan kaya, tetapi juga menghadirkan makna simbolis: harapan akan tahun baru yang penuh keberlimpahan dan kehangatan keluarga yang tak tergantikan.
Selain hidangan utama, perayaan Tahun Baru di banyak daerah Indonesia juga diramaikan oleh kue-kue tradisional yang sarat makna. Kue apem, yang berasal dari Jawa, terbuat dari tepung beras dan santan yang difermentasi. Rasanya lembut dan sedikit manis. Dalam tradisi Jawa, apem melambangkan permohonan maaf dan keinginan untuk memulai lembaran baru dengan hati bersih, sebuah makna yang sangat sesuai dengan semangat Tahun Baru.