by VALSZE
Memuat data dari server...
Top

Yogyakarta

merapi

Yogyakarta

Yogyakarta dikenal sebagai kota yang sarat akan sejarah dan budaya, tetapi pesonanya tak berhenti di pusat kota saja. Di balik hiruk pikuk Malioboro atau megahnya Keraton, terdapat deretan destinasi alam yang tersebar di wilayah sekitarnya, tempat-tempat yang menghadirkan suasana lebih tenang, alami, dan penuh kejutan.

0km
Saat hari berganti malam, jalan-jalan Yogyakarta menjadi tempat yang tenang, baik bagi penduduk lokal maupun pengunjung, mengubah momen biasa menjadi jeda damai yang tak terlupakan.

Pagi itu, saya memulai perjalanan dari rumah dan berkendara sekitar 90 menit ke arah timur menuju Tebing Breksi. Begitu tiba, saya merasa seperti masuk ke bagian bumi yang sudah lama terlupakan. Bekas tambang batu alam dari aktivitas Gunung Api Purba Nglanggeran ini kini menjelma menjadi panggung raksasa dengan dinding-dinding tebing yang membentuk formasi unik, dan turut dihiasi juga oleh pahatan seniman lokal.

Saat menapaki jalan menuju puncak, embusan angin pagi terasa menyegarkan. Area ini terbilang gersang dan tidak terlindungi pepohonan, sehingga waktu paling ideal untuk berkunjung memang sebaiknya di pagi hari atau sore menjelang senja. Sesampainya di atas, mata saya disuguhi pemandangan Candi Prambanan, Candi Ijo, Situs Ratu Boko, dan Gunung Merapi yang tampak berdiri megah di kejauhan.

Sebelum matahari semakin tinggi, perjalanan dilanjutkan sekitar 45 menit ke arah selatan menuju Hutan Pinus Mangunan di Imogiri. Hamparan pohon pinus berbaris rapi, seolah menyambut dan membentuk gerbang alami, mengundang saya untuk melangkah masuk lebih dalam. Sambil berjalan di jalur pejalan kaki yang tertata nyaman, saya membayangkan bahwa tempat yang kini begitu hijau ini konon dulunya hanyalah lahan kosong yang tandus. Penghijauan dengan beragam tanaman, seperti pinus, mahoni, dan akasia telah menjadikan hutan ini hidup, teduh, dan menenangkan.

hutanpinusmangunan
Di Hutan Pinus Mangunan, langit mengintip di sela-sela barisan pohon menjulang yang tak berujung, mengajakmu melangkah menyusuri pelukan alam yang hening dan menenangkan.

Suasananya terasa hampir magis, seolah membawa saya ke dunia lain. Saya pun memutuskan untuk menyewa hammock dan berbaring di antara dua pohon, menikmati angin sejuk yang menyusup. Ini mengingatkan saya bahwa kadang pelarian sederhana ke alam sudah cukup untuk menyegarkan kembali pikiran dan hati.

Menjelang sore, saya kembali berkendara sekitar 1 jam ke Pantai Gesing di Gunungkidul. Teluk kecil ini tersembunyi di balik tebing-tebing kapur yang curam menghadap Samudra Hindia. Debur ombak memantul di bebatuan, sementara perahu nelayan warna-warni bergoyang lembut di garis pantai. Perairannya menampilkan gradasi warna memukau, dari hijau yang menampakkan kehidupan biota laut, hingga biru yang memantulkan sinar matahari seperti serpihan kaca. Tidak terlalu ramai, tempat ini sempurna untuk duduk di pasir dan menyaksikan garis cakrawala menyatu antara langit dan laut.

Saat senja, sinar matahari hangat memantul, menciptakan cahaya keemasan yang lembut. Dari atas tebing, Gesing Wonderland tampak memukau dengan warna-warni wahana bianglala dan spot foto yang menambah keceriaan tanpa mengurangi ketenangan alam di sekitarnya. Di sini, saya benar-benar merasa menemukan tempat persembunyian yang damai.

gesingwonderland
Bertengger di atas deburan ombak, tebing-tebing di Pantai Gesing menawarkan pelarian yang memukau dari hiruk-pikuk kehidupan sehari-hari.

Keesokan paginya, saya berkendara ke arah barat menuju Kalibiru di Kulon Progo. Melewati jalan berliku menuju perbukitan Menoreh, pepohonan rindang di tepi jalan membuat suasana terasa lebih sejuk dan tenang. Setibanya di sana, panorama hijau membentang luas, Waduk Sermo terlihat dari kejauhan dengan permukaannya yang berkilau memantulkan cahaya matahari.

Daya tarik utama Kalibiru tentu saja panggung kayu yang berfungsi sebagai gardu pandang, bertengger di atas ketinggian pohon. Untuk mencapainya, saya memberanikan diri menaiki tangga kayu yang kokoh hingga ke atas. Dari sana, pemandangan sekitar terlihat lebih luas dan indah, tempat yang cocok untuk berhenti sejenak dan menikmati ketenangan, terputus dari kesibukan dengan cara yang menyenangkan.

kalibiru
Dari puncak Kalibiru, panorama Waduk Sermo terlihat begitu luas dan menenangkan, memanjakan mata dengan hijaunya perbukitan dan kilau air yang tenang.

Ketika matahari mulai naik, saya melanjutkan perjalanan ke Air Terjun Kembang Soka yang berjarak sekitar 20 menit dari Kalibiru. Jalur menuju air terjun ternyata cukup ringan dan mudah diakses dari area parkir, membuat saya dapat berjalan santai sambil menikmati udara pegunungan. Lingkungannya pun masih sangat asri, dengan pepohonan lebat dan suara gemericik air yang menenangkan. Rasanya seperti menemukan permata tersembunyi yang selama ini luput dari pandangan.

Mendekati kolam utama, mata saya terpikat oleh air yang tampak berwarna toska kebiruan dengan dasar bebatuan kapur cerah. Saat air mengalir melalui bebatuan berundak, warna air berubah menjadi putih lembut, seperti tirai kecil yang jatuh perlahan ke kolam dangkal yang tenang. Beberapa pengunjung terlihat asyik berenang dan bermain air, tawa mereka menggema di antara tebing dan pepohonan. Namun, bagi saya, duduk di tepi kolam sambil merendam kaki dan menikmati sejuknya udara pegunungan sudah lebih dari cukup.

kembangsoka
Air Terjun Kembang Soka memikat para pengunjung dengan airnya yang berwarna toska menawan, aliran air yang lembut, serta suasana tenang di tengah hutan tropis—sebuah pelarian sempurna bagi para pecinta alam dan pelancong.

Tak jauh dari sana, kurang dari 10 menit berkendara, terletak Goa Kiskendo. Goa horizontal dengan stalaktit dan stalagmit yang indah ini membentuk lorong batu yang memukau mata. Panjangnya sekitar 200-300 meter, dan jalurnya mudah diakses serta relatif aman, membuat saya merasa nyaman untuk menjelajah tanpa perlu peralatan khusus meski ini adalah pengalaman caving pertama saya.

Sepanjang perjalanan di dalam gua, pencahayaan alami dari mulut dan celah-celah dinding menciptakan efek dramatis. Selain keindahan alam, gua ini memiliki nuansa mitologis yang kuat. Menurut legenda lokal, Goa Kiskendo dianggap sebagai lokasi konflik tokoh-tokoh wanara dalam kisah Ramayana, khususnya pertarungan antara Subali dan Sugriwa melawan raksasa Mahesasura dan Lembusura. Relief di beberapa titik gua memperkuat pengalaman budaya dan mitologi, sementara formasi batu yang unik membuat saya terus mengabadikan momen dengan kamera.

Perjalanan ini membuat saya benar-benar merasakan ragam wajah alam Yogyakarta, dan setiap tempat menghadirkan detail yang menakjubkan. Saya pun kembali dengan pikiran yang segar dan hati yang penuh kekaguman terhadap keindahan alam di sekeliling kota budaya ini.

FIVE SENSES

Rasakan petualangan off-road seru di kaki Gunung Merapi dengan Lava Tour Merapi. Naiki jeep dan jelajahi lanskap bekas erupsi, melewati ladang lava dan medan bergelombang yang menegangkan. Rute tur ini biasanya meliputi titik ikonik, seperti Bunker Kaliadem, Museum Sisa Hartaku, Batu Alien, Petilasan Mbah Maridjan, dan Kali Kuning.

Jadah Tempe

Kuliner yang dinobatkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Daerah Istimewa Yogyakarta ini terdiri atas jadah dari beras serta tempe bacem yang direbus dengan campuran gula merah, bawang, daun salam, dan bumbu lain yang meresap hingga kecokelatan. Biasanya disantap sebagai camilan dan  disajikan di berbagai acara, seperti kenduri, ruwatan, atau perayaan tradisional lainnya.

Sight

Rasakan petualangan off-road seru di kaki Gunung Merapi dengan Lava Tour Merapi. Naiki jeep dan jelajahi lanskap bekas erupsi, melewati ladang lava dan medan bergelombang yang menegangkan. Rute tur ini biasanya meliputi titik ikonik, seperti Bunker Kaliadem, Museum Sisa Hartaku, Batu Alien, Petilasan Mbah Maridjan, dan Kali Kuning.

Taste

Jadah Tempe

Kuliner yang dinobatkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Daerah Istimewa Yogyakarta ini terdiri atas jadah dari beras serta tempe bacem yang direbus dengan campuran gula merah, bawang, daun salam, dan bumbu lain yang meresap hingga kecokelatan. Biasanya disantap sebagai camilan dan  disajikan di berbagai acara, seperti kenduri, ruwatan, atau perayaan tradisional lainnya.

Local Folklore: Ratu Boko

Situs Ratu Boko berlokasi di atas lereng, 196 meter di atas permukaan laut, dan hanya 3 kilometer dari Prambanan. Reruntuhan purbakala ini, terutama saat tersinari cahaya keemasan matahari di pagi hari, seolah berbisik tentang kerajaan yang telah lama hilang. Para arkeolog mencatat bahwa kawasan ini sudah ada sejak abad ke-8, pada masa kerajaan Sailendra dan Mataram. Gerbang utamanya, dengan pahatan batu yang rumit, menampilkan keindahan arsitektur Hindu dan Buddha, menyambut setiap pengunjung ke kompleks yang memiliki struktur terbuka ini.

 

Menurut legenda, tempat ini dulunya dikuasai oleh Raja Boko yang legendaris. Nama “Raja Boko” secara harfiah berarti “raja bangau”, meskipun dalam konteks cerita Jawa kuno, ini merujuk pada sosok raja yang berwatak kuat dan berwibawa. Legenda menyebut bahwa Raja Boko memiliki kekuatan luar biasa dan menghilang secara misterius, sehingga masyarakat percaya bahwa roh sang raja masih menjadi penjaga di sekitar kawasan ini. Situs ini juga memiliki kaitan erat dengan legenda Roro Jonggrang, tokoh mitos yang dipercaya sebagai putri Raja Boko.