by VALSZE
Memuat data dari server...
Top

Semarang

semarang result

Semarang

Semarang selalu punya cara sendiri untuk menyambut tamunya. Menjelang Ramadan, ketika kota berhias lampion Imlek di beberapa sudutnya, bagaimana kota pelabuhan tua ini merayakan keberagaman tanpa harus menghilangkan identitas masing-masing?

Udara pagi terasa hangat dan sedikit asin, membawa aroma laut yang samar dari arah utara kota. Pertanyaan itu pelan-pelan terjawab sepanjang perjalanan, dari bangunan bersejarah hingga sudut pasar yang ramai. Menuju Semarang pun terasa mudah dan nyaman berkat akses jalan tol yang mulai terhubung, membuat perjalanan singkat terasa efisien tanpa mengurangi kenikmatan eksplorasi.

Langkah pertama membawa saya ke Lawang Sewu. Bangunan ikonik peninggalan kolonial ini rasanya destinasi wajib bagi setiap pelancong. Bangunan ini berdiri megah dengan pintu-pintu tinggi yang seolah menyimpan banyak cerita. Dibangun sejak 1904, Lawang Sewu mulai digunakan sebagai perusahaan kereta api Belanda, Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS) pada 1907 hingga diambil alih Jepang pada 1942. Di sela suara langkah pengunjung dan gema samar di ruang luas, saya membayangkan bagaimana gedung ini dulu menjadi pusat aktivitas transportasi.

lawangsewu result
Interior Lawang Sewu menampilkan tangga kembar ikonik, lengkungan kolonial Belanda, dan atap kaca megah yang memancarkan nuansa sejarah serta keanggunan arsitektur Semarang klasik abadi bernilai

Meski telah berlalu lebih dari satu abad, Lawang Sewu hingga kini masih memancarkan sisa kemegahannya sebagai bangunan bersejarah yang kokoh, dengan koridor-koridor tinggi yang terasa sejuk dan sedikit misterius. Detail arsitektur kolonialnya mempertegas nilai warisan yang luar biasa dari masa lalu kota ini. Kini, Lawang Sewu menjadi ruang perjumpaan lintas generasi-wisatawan lokal, rombongan pelajar, hingga turis mancanegara saling berbagi ruang. Di tengah suasana mendekati bulan Ramadan yang menenangkan, tempat ini menghadirkan refleksi tentang perjalanan waktu dan ketahanan sebuah kota.

Dari Lawang Sewu, saya beralih ke Kawasan Kota Lama. Area ini selalu terasa seperti membuka lembaran album foto masa lalu. Bangunan-bangunan bergaya Eropa berdiri berdampingan dengan kafe modern, galeri seni, dan toko suvenir. Saya tak pernah bosan untuk menikmati keindahannya sambil berfoto di setiap sudut. Kota Lama memperlihatkan bagaimana Semarang merawat warisan sejarah sambil tetap memberi ruang bagi kreativitas masa kini. Di sini, suasana terasa santai, seperti mengajak pelancong untuk menikmati setiap langkah perjalanan.

Dari atmosfer kolonial, perjalanan saya berlanjut ke kawasan yang sarat nilai spiritual dan budaya, Sam Poo Kong, kelenteng tertua di Semarang. Kelenteng berwarna merah menyala ini tampak hidup dengan ornamen Imlek yang terpasang menyambut perayaan. Bangunan ini diyakini didirikan oleh Laksamana Zheng He atau dikenal sebagai Cheng Ho sejak awal abad ke-15 dalam masa pelayarannya saat merapat di Pantai Utara Semarang. Mulanya bangunan ini merupakan sebuah masjid di tepi pantai yang kini beralih fungsi menjadi kelenteng, seiring berkembangnya komunitas Tionghoa dan aktivitas perdagangan di Semarang.

Kompleks Sam Poo Kong hari ini tampil megah didominasi warna merah, relief kisah pelayaran, serta halaman luas yang dipenuhi peziarah dan wisatawan dari berbagai latar belakang. Menjelang perayaan Imlek, kawasan Sam Poo Kong biasanya semakin hidup. Pertunjukan barongsai kerap digelar di pelataran, menarik perhatian pengunjung yang berkerumun. Kostum singa berwarna cerah meliuk di antara tiang-tiang merah, disambut sorak anak-anak dan tepuk tangan orang dewasa. Di beberapa sudut, pedagang menjajakan lampion, pernak-pernik keberuntungan, dan jajanan ringan, menambah semarak suasana. Cahaya lampu hias di atap kelenteng menciptakan nuansa hangat yang berpadu dengan wangi dupa, sebuah perayaan visual dan rasa yang membuat ruang spiritual ini terasa sakral, tetapi meriah.

sampookong result
Patung di Sam Poo Kong mengabadikan kisah armada Dinasti Ming yang dipimpin Laksamana Cheng Ho, membawa pelayaran, toleransi, dan perjumpaan budaya lintas zaman di Nusantara

Bicara soal Ramadan, Semarang memiliki tradisi Dugderan, pesta rakyat tahunan yang menandai datangnya bulan puasa dan biasanya digelar beberapa hari sebelum 1 Ramadan. Tradisi ini ditandai dengan tabuhan bedug (“dug”) dan dentuman meriam (“der”) yang menjadi asal-usul namanya, serta dimeriahkan kirab budaya dengan arak-arakan ikon Warak Ngendog, simbol akulturasi budaya Jawa, Arab, dan Tionghoa yang merepresentasikan semangat toleransi di kota ini. Jika datang di momen yang tepat, Anda bisa menyaksikan arak-arakan melintasi Jalan Pemuda hingga Kawasan alun-alun kota, tempat warga tumpah ruah menikmati pawai sekaligus pasar rakyat. Dugderan pun terasa bukan sekadar seremoni, melainkan perayaan kebersamaan yang hangat dalam menyambut bulan suci.

Setelah itu, saya menuju kawasan Pecinan. Memasuki bulan Imlek, kawasan ini bersolek dengan lampion merah yang bergantung di sepanjang jalan, berpadu dengan deretan toko dan kedai yang tetap sibuk melayani pengunjung. Menjelang malam di akhir pekan, Anda bisa mampir ke Pasar Semawis yang masih berada di kawasan ini. Deretan pedagang kuliner menawarkan beragam sajian, mulai dari lumpia khas Semarang, tahu pong, hingga mi, camilan tradisional, dan oleh-oleh khas kota ini. Lebih dari sekadar tempat makan, kawasan ini menjadi ruang pertemuan sosial yang memperlihatkan bagaimana tradisi dan keseharian berjalan harmoni.

Perjalanan kemudian membawa saya ke Masjid Agung Jawa Tengah. Kubah besar dan menara menjulang menyambut dari kejauhan. Jika berkunjung di bulan puasa, saat sore tiba, halaman masjid akan dipenuhi jamaah yang datang lebih awal untuk beribadah. Saya duduk sejenak, mendengar lantunan murattal yang lembut, menciptakan suasana khusyuk menjelang azan Magrib. Di momen ini, suasana Ramadan mulai terasa-bukan hanya sebagai ritual ibadah, tetapi juga ruang pertemuan sosial.

masjidagungjateng result
Halaman Masjid Agung Jawa Tengah dilengkapi enam payung raksasa otomatis, seperti di Masjid Nabawi, Madinah.

Saat matahari mulai turun, langkah saya berakhir di kawasan Alun-alun Pasar Johar yang terkenal sebagai pasar kuliner. Sore hari para pedagang sudah membuka jajanannya. Saat bulan puasa, keramaian di titik ini bisa dua kali lipat.

Saya membawa beberapa jajanan dan duduk di sudut alun-alun. Langit berwarna jingga keunguan, sementara lampu-lampu kios mulai menyala satu per satu. Sambil menikmati jajanan, saya merenungkan perjalanan singkat hari itu. Dalam satu hari, saya bisa menyentuh lapisan sejarah, budaya, spiritualitas, dan kehidupan sehari-hari kota. Semarang terasa seperti mozaik yang tersusun dari banyak warna, tetapi tetap menyatu harmonis.

Perpaduan Ramadan dan kemeriahan Imlek menghadirkan wajah Semarang yang unik. Di satu sisi, ada kekhusyukan ibadah; di sisi lain, ada semarak budaya yang masih terasa. Sebagai pelancong, saya merasakan bahwa kota ini bukan hanya destinasi, tetapi pengalaman tentang hidup berdampingan. Saat pulang, ada rasa hangat yang menetap tentang sebuah kota yang merawat harmoni secara sederhana, jujur, dan terasa nyata.