by VALSZE
Memuat data dari server...
Top

Radio!

radio!

Radio!

Pada akhir pekan panjang ini, aku menghabiskan waktu dengan belajar dan membaca beberapa literatur teknik. Ada sedikit urusan dan kunjungan kerabat; selebihnya, aku lebih banyak melakukan hal-hal yang kuinginkan saja.

Pas kupikir lagi, ternyata Februari sudah lewat setengahnya.

Belakangan ini aku juga iseng mendengarkan radio lagi. Lagu-lagu lama, kebanyakan. Waktu sesi beres-beres rumah di awal tahun, adik ibuku menemukan tape compo lawas, Polytron, model Bazzoke. Rasanya aku pernah lihat iklannya di televisi. Dulu alat itu dibelikan bapak dan ibu setelah adikku dapat peringkat pertama di kelas.

Kayaknya aku jadi sedikit melantur.

Pagi ini agak mendung, lalu turun gerimis. Ya, cuaca yang rasanya memang “wajar” untuk Februari di awal tahun. (Walau kalau dipikir-pikir: memang ada Februari yang bukan di awal tahun?) Jadi aku cuma mendengarkan radio sambil bikin kopi seadanya, ditemani kue dan biskuit yang juga seadanya.

Di latar belakang, radio memutar lagu-lagu lama, sesekali diselipkan yang baru. Aku bahkan nggak tahu siapa yang terakhir mengatur frekuensinya. Mungkin adik ibuku.

Britney Spears. Katon Bagaskara. Celine Dion (yang khas itu: “that’s the way it is, yeah!”). Kadang muncul juga yang agak baru, semacam Bruno Mars, yang, entah kenapa, bisa-bisanya serius mau “nangkap granat”. Tapi ya sudahlah.

Radio. Produk dari sebuah zaman.

Aku jadi ingat masa sekolah dulu: aku sering menyempatkan diri mendengarkan radio, sekadar untuk tahu tren musik atau berita sepak bola seperlunya. Ada juga sesi kirim lagu dan pesan antar-pendengar yang dibacakan penyiar. Kadang aku merekam beberapa acara untuk didengar lagi nanti. Hal-hal sederhana, tapi dulu rasanya sangat “normal”, bagian dari zamannya.

Tapi ya, apa pun itu. Untuk sekarang, aku cuma ingin mendengarkan radio saja—seperti Mbak Andrea dan saudara-saudaranya.

so I listen to the radio
and all the songs we used to know
so I listen to the radio
remember where we used to go…

Mungkin nanti lagunya diputar di radio. Akan seru juga kalau bisa sekalian kukirim dengan pesan, walaupun, seperti biasa, urusan “dibacakan atau nggak” itu seringnya soal keberuntungan juga.