Knetz vs SEAblings: Adab di Atas Budaya Fansite
Sejujurnya, saya menulis ini bukan sebagai seorang fangirl yang mengoleksi photocard atau hapal koreografi grup idola. Saya tidak menonton drama Korea (K-Drama), saya jauh lebih menikmati alur cerita dan estetika Drama China (C-Drama) yang menurut saya lebih megah. Saya juga bukan bagian dari MYDAY (sebutan fans DAY6).
Namun, melihat kekacauan antara SEAblings (netizen Asia Tenggara) dan Knetz (netizen Korea) baru-baru ini, saya merasa ada satu hal mendasar yang hilang: Rasa Hormat.
Aturan Dibuat Bukan untuk Dilanggar
Konflik yang berawal dari konser DAY6 di Malaysia (dan merembet ke Jakarta) ini sebenarnya sederhana: Ada aturan, tolong dipatuhi. Pihak promotor sudah jelas melarang penggunaan kamera profesional. Tapi apa yang terjadi? Oknum fansite asal Korea Selatan justru membawa lensa “moncong putih” raksasa yang tidak hanya melanggar aturan, tapi juga menghalangi pandangan penonton lain yang sudah bayar tiket mahal-mahal.
Lucunya, saat ditegur, mereka (dan pendukungnya di media sosial) justru berlindung di balik dalih “budaya fansite” atau “hak untuk mendokumentasikan.” Maaf, tapi di mana pun buminya dipijak, langitnya harus dijunjung. Anda sedang di negara orang, maka ikuti aturan tuan rumah.
Solidaritas SEAblings vs Keangkuhan Digital
Saya harus angkat topi untuk fenomena SEAblings. Melihat netizen Indonesia, Malaysia, Thailand, hingga Vietnam bersatu melawan komentar rasis Knetz adalah pemandangan yang langka.
Sayangnya, perdebatan ini justru melebar ke arah rasisme. Beberapa Knetz melontarkan ejekan fisik dan ekonomi yang sangat merendahkan. Sebagai orang yang lebih suka menonton Ancient Love Poetry atau Story of Kunning Palace, saya melihat pola yang sama di sini: ada rasa superioritas yang tidak pada tempatnya.
Aturan Konser: Dilarang bawa kamera profesional.
Tindakan Fansite: Tetap bawa dan mengganggu orang lain.
Respon Knetz: Membela pelanggar aturan dengan rasisme.
Ini bukan soal musik, ini soal etika dasar sebagai manusia.
Blunder Bendera: Memusuhi Indonesia, Malah “Nyenggol” Polandia
Puncak kekonyolan Knetz adalah saat mereka mencoba menghina Indonesia dengan membalik bendera Merah Putih menjadi Putih Merah di media sosial. Niatnya ingin mengolok-olok, tapi mereka lupa bahwa Putih Merah adalah bendera negara Polandia.
Alhasil, netizen Polandia pun “bangun” dan ikut turun tangan. Mereka tidak terima simbol negaranya dijadikan alat untuk kebencian dan rasisme. Ini adalah bukti nyata bahwa rasisme seringkali berjalan beriringan dengan kebodohan. Alih-alih terlihat superior, oknum Knetz ini malah mempermalukan diri sendiri di kancah internasional.
Hargai Tuan Rumah
Sebagai penikmat drama China, saya mungkin tidak punya kepentingan dalam dunia per-Kpop-an. Tapi sebagai warga Asia Tenggara, saya gerah melihat tamu yang tidak tahu diri. Jika Anda tidak bisa menghargai aturan di konser negara kami, jangan datang.
Konser adalah tentang pengalaman kolektif, bukan panggung pribadi untuk fansite mendapatkan foto HD demi konten mereka sendiri. Mari kita tunjukkan bahwa penonton Asia Tenggara punya standar etika yang lebih tinggi daripada mereka yang merasa “lebih maju” tapi rasis.
“Menghormati aturan di rumah orang lain bukan pilihan, itu kewajiban.”