by VALSZE
Memuat data dari server...
Top

Jakarta

Jakarta

Ada sesuatu yang selalu menggoda dari Jakarta setiap kali Desember datang. Kota ini mungkin tak punya salju, tapi sinar lampu malamnya seperti hujan cahaya. Dia selalu punya cara merayakan penghujung tahun dan menyambut awal tahun yang baru.

Tak ada sudut kota yang sepi, dari gedung tinggi, pusat perbelanjaan, pasar tradisional, taman kota, pusat bisnis hingga sudut tua Batavia, semua ramai penuh keriaan.


Saya ingat, di beberapa tahun lalu sempat mengunjungi beberapa landmark Jakarta, Taman Mini Indonesia Indah, Monumen Nasional, hingga Museum Nasional yang megah. Tak satu pun yang sepi. Di setiap tempat, lautan manusia memenuhi ruang: keluarga yang berfoto, anak-anak berlarian, pasangan muda bergandengan, tawa lepas, dan aroma jajanan kaki lima bercampur menjadi simfoni kota yang hidup.


Monas bersinar megah di malam tahun baru, dihiasi kembang api yang merayakan harapan baru, kebahagiaan, dan semangat Jakarta menyambut awal tahun.

Sekarang sudah banyak lagi tempat yang bisa dieksplorasi. Kali ini menjelang sore, saya memulai perjalanan dari Hutan Kota GBK, oasis hijau di tengah hutan beton Senayan. Rumput dan kolamnya terawat, dengan pohon-pohonnya yang rindang, menjadi tempat yang tepat menikmati sore di tengah kota. Dari kejauhan, siluet gedung SCBD berkilau, seolah saya berada di taman kota dunia-sedikit mirip New York, tapi dengan napas tropis khas Jakarta. Orang-orang datang bersama keluarga, membawa tikar piknik dan minuman, sementara saya hanya ingin merebahkan tubuh sebentar menikmati angin sore, ternyata masih ada area hijau yang nyaman di kota ini.

Hutan Kota GBK bukan hanya paru-paru kota, tetapi juga menjadi destinasi baru untuk bereksplorasi, bersantai, dan menikmati keindahan alam Jakarta.

Saat langit mulai berwarna jingga, saya beranjak menuju halte TransJakarta dekat Pintu 7 GBK untuk melanjutkan perjalanan ke kawasan Sudirman. Hanya 10 menit kemudian, saya tiba di Halte Karet Sudirman, tempat berdirinya JPO Karet Sudirman atau JPO Pinisi yang berkilau di antara lampu kota. Meski hanya jembatan penyeberangan yang menghubungkan dua sisi jalan, kehadirannya memberi wajah baru Jakarta yang lebih modern dan hidup.

Desain JPO ini terinspirasi darı Kapal Pinisi, kapal tradisional khas Sulawesi Selatan yang dahulu sering berlabuh di Pelabuhan Sunda Kelapa. JPO ini tampak memukau di malam hari dengan lampu LED di sepanjang sisınya. Saya berhenti sejenak di anjungan pandang, menatap lanskap kota dan lalu lintas Sudirman yang berpendar seperti aliran cahaya-tempat yang pas untuk menikmati pawai atau kembang api saat pergantian tahun. Siang ataupun malam, tempat ini selalu ramai oleh pengunjung: banyak yang berhenti untuk berfoto dengan latar gedung tinggi dan langit terbuka.


JPO Pinisi menghadirkan panorama dan hiruk pikuk kota dari ketinggian.

Dari JPO Pinisi, perjalanan saya berlanjut ke Sky Deck Sarinah untuk menuntaskan rasa penasaran, karena banyak yang menyebutnya sebagai salah satu spot terbaik menikmati langit Jakarta dari ketinggian bersahabat. Mal tertua di Indonesia ini kini tampil lebih elegan setelah revitalisasi, menjelma tak hanya sebagai pusat belanja, tetapi juga ruang publik yang hidup. Di dek terbukanya, saya bisa mencium aroma kopi dari kedai di bawah, sementara di kejauhan, lampu kota berkelip warna-warni.

Menjelang Natal dan Tahun Baru, suasananya terasa lebih hangat dengan hiasan di setiap sudut. Dari sini, pemandangan menuju Thamrin hingga Bundaran HI terlihat memukau-terbayang meriahnya saat pergantian tahun. Menariknya, khusus di malam Tahun Baru, Sky Deck Sarinah memperpanjang jam operasional hingga pukul 01.00 dini hari agar pengunjung bisa menikmati pesta kembang api tanpa terburu waktu. Saya berdiri di tepian dek, menatap langit Jakarta yang semakin terang oleh semburan warna. Di antara kerumunan dan kilatan kamera yang bersahutan, saya merasa kota ini sedang memeluk semua yang datang-warga lama, pendatang baru, bahkan mereka yang hanya singgah sesaat.

Di lain hari, saya menuju kawasan Batavia PIK, tempat yang belakangan ramai diperbincangkan karena atraksi air mancurnya. Ini kunjungan pertama saya, dan benar saja, setibanya di sana, saya langsung dibuat berdecak kagum. Di tengah kanal luas, Water Fountain at Batavia menampilkan pertunjukan air, musik, dan cahaya berwarna yang berpadu apik. Semburan air menari mengikuti irama lagu-kadang lembut, kadang kencang-membentuk lengkungan tinggi berpadu dengan pancaran sinar laser. Di belakangnya, Jembatan Kota Intan berdiri gagah, menciptakan kontras indah antara masa lalu dan masa kini.

Usai menikmati keindahan air mancur menari, saya berjalan menyusuri deretan kafe dan restoran di tepi kanal. Aroma kopi, roti panggang, dan hidangan laut menggoda untuk dicoba. Saya memilih duduk di kafe terbuka, menyeruput es kopi sambil memandangi langit PIK yang mulai gelap. Malam itu, Jakarta terasa lengkap-riuh, berwarna, sekaligus menenangkan.

Namun, Jakarta tak hanya tentang gedung tinggi dan gemerlap lampu. Di sisi lain kota, berdiri megah Murugan Temple, kuil Hindu seluas empat ribu meter persegi-yang juga menjadi kuil Hindu terbesar di Indonesia. Tempat ibadah ini disiapkan sebagai destinasi wisata religi layaknya Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral. Melangkah masuk ke dalamnya, Anda seolah lupa sedang berada di Jakarta, karena nuansanya begitu kental dengan budaya India berpadu harmonis dengan unsur Bali dan Jawa. Gaya arsitekturnya mengusung corak Dravidian khas India Selatan, dengan menara tinggi berukir dewa-dewi dan warna cerah yang memikat.


Kuil Murugan ialah kuil Hindu Tamil yang bukan sekadar tempat ibadah, tetapi juga pusat budaya.

Di dalam kuil, suasana terasa hening dan damai. Beberapa orang tampak bermeditasi, tersedia pula ruang yoga gratis untuk komunitas. Saya juga sempat menilik koleksi di perpustakaan yang menyimpan lebih dari 2.000 buku tentang spiritualitas dan budaya India. Dikelilingi taman yang tertata rapi, Jakarta Murugan Temple menghadirkan ketenangan yang menyejukkan-tempat ideal untuk berwisata religi sekaligus menepi dari (hiruk-pikuk) ibu kota.

Jakarta, bagi banyak orang, sering dianggap sebagai kota keras. Namun di penghujung tahun, sisi lembutnya muncul tanpa disadari. Saya menutup perjalanan kembali ke kawasan pusat kota, tepatnya di tepi Bundaran HI, menatap keramaian dan gemerlap lampu yang memantul di air mancur. Rasanya ingin segera melihat perayaan akhir tahun. Jakarta sungguh sebuah kota besar dengan segala keragaman dan penuh cerita. Sayangnya, saya harus pulang kembali ke kota saya. Mungkin suatu saat, saya berkesempatan untuk melihatnya.