by VALSZE
Memuat data dari server...
Top

Guangzhou

Guangzhou

Guangzhou memiliki cara yang unik dalam merayakan akhir tahun, memadukan pesona tradisional Kanton dengan denyut kota metropolitan global. Dari promenade tepi sungai hingga kawasan bersejarah, kota ini terasa hidup di setiap sudutnya-hangat, dinamis, dan selalu siap untuk perayaan.

Pada pagi yang tenang, saya memulai perjalanan menuju Baiyun Mountain atau “White Cloud Mountain”, nama yang berasal dari kabut lembut yang kerap menyelimuti puncaknya. Saya naik kereta gantung menuju ketinggian berkabut sebelum melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki di jalur berliku. Saat kabin melaju di atas pepohonan, Guangzhou tampak luas membentang di bawah. Ketika saya naik melewati jalur pendakian yang terawat dengan baik, suara kota perlahan menghilang, digantikan kicauan burung dan desir pepohonan bambu.


Sebagai salah satu kota metropolitan dengan populasi tertinggi, pusat komersial Guangzhou selalu dipenuhi keramaian.

Saat tiba di Moxing Ridge, panorama terbentang luas layaknya lukisan, Guangzhou menjulur di kejauhan, awan melayang tepat di bawah puncak. Dalam momen itu, seakan berada di antara bumi dan langit, ketenangan gunung terasa menghadirkan kedamalan spiritual yang menjadikan tempat ini benar-benar ibarat paru-paru kota.

Dari oasis yang hijau, saya kembali ke (hiruk-pikuk) Tianhe Road. Di sinilah denyut modern Guangzhou benar-benar terasa, mal-mal menjulang, papan neon terang, dan kerumunan orang bergerak seperti gelombang di trotoar yang lebar. Ke mana pun mata memandang, Guangzhou seolah merayakan energi tak terbendung, seakan seluruh distrik ditenagai listrik dengan daya terisi penuh. Terutama menjelang Natal dan Tahun Baru, atmosfer di area ini semakin meriah. Meskipun Natal bukan termasuk hari libur, mal-mal besar, seperti Tee Mall dan Grandview Mall dihiasi instalasi cahaya dan pohon Natal raksasa, dengan pop up market yang ramai pengunjung. Jalan besar ini memang pusat kekuatan komersial kota.

Masih di area yang sama, saya menutup hari di jantung modern Guangzhou, Huacheng Square. Ruang urban luas di distrik bisnis Zhujiang New Town ini, sering disebut “Flower City Square”, benar-benar hidup saat malam tiba. Ketika matahari tenggelam di balik gedung pencakar langit, alun-alun ini diterangi cahaya biru, emas, dan ungu.

Dikelilingi ikon arsitektur seperti Canton Tower, tempat biasanya diadakan iluminasi khusus akhir tahun, Guangzhou Opera House, dan Guangdong Museum, alun-alun ini menampilkan keindahan futuristiknya. Dari sini, para turis juga bisa bergabung dengan warga lokal untuk joging malam melintasi rute memukau sampai ke Ershadao Island.

Keesokan harinya, saya menyusuri distrik Dongshankou yang menawan, kawasan yang dikenal dengan vila-vila bata merah dari tahun 1920-an dan 30-an serta jalanan rindang. Bangunan-bangunannya, dengan fasad Eropa dan sentuhan Kanton, menciptakan suasana memukau. Studio kreatif, toko buku, dan butik vintage memenuhi area ini, setiap sudut menawarkan kejutan tersendiri-serasa berjalan dalam museum hidup, tempat keanggunan masa lalu berpadu indah dengan sentuhan artistik masa kini.

Kemudian, perjalanan membawa saya ke tempat yang menghadirkan ketenangan: Huaisheng Mosque. Dipercaya sebagai salah satu masjid tertua di Tiongkok-berdiri lebih dari seribu tahun lalu, halamannya yang tenang seketika meredam kebisingan kota, menciptakan kedamaian yang menenteramkan. Menara Light Tower menjulang anggun ke langit, menjadi saksi bisu sejarah Guangzhou sejak Dinasti Tang pada abad ke-7. Dahulu, menara ini bahkan berfungsi sebagai mercusuar, membimbing kapal dagang di Sungai Mutiara, sebuah pengingat kuat akan peran penting Guangzhou di Jalur Sutra Maritim. Di dalamnya, suasana terasa hening dan damai, memberikan kontras lembut terhadap ritme cepat kota serta menyoroti keberagaman budaya dan agama yang luar biasa. Bagi turis muslim, ada banyak hidangan halal di area ini, seperti sate domba dan angsa panggang khas Guangzhou.

Untuk merasakan jiwa sejarah Guangzhou, saya menuju Shamian Island pada sore hari. Dataran kecil yang dahulu menjadi konsesi Inggris dan Perancis ini berada jauh dari gemerlap gedung pencakar langit. Berjalan di bawah deretan pohon beringin tua terasa seperti melangkah keluar dari waktu. Bangunan kolonial pastel berbisik tentang kisah berabad-abad, sementara arsitektur Eropa yang anggun, lengkap dengan mansion kolonial dan gereja batu, menjadi latar yang tenang untuk berjalan santai. Di tempat ini, dunia terasa lebih lembut, menunjukkan bahwa bahkan kota tersibuk pun menyimpan sisi yang tenang.


Kota Guangzhou berusia 2.200 tahun dan dihuni oleh 14 juta penduduk,memadukan sejarah kuno dengan gedung pencakar langit yang modern.

Malam harinya, saya menuju Shangxiajiu Pedestrian Street, tempat lentera-lentera menyala di atas deretan arsitektur tradisional gaya Lingnan. Meski toko-tokonya modern, jiwa Guangzhou tempo dulu terasa jelas di sepanjang jalan ini. Tak jauh dari sana, ada juga Distrik Li Wan, yang menampilkan pesona kota tua Kanton.

Semakin dekat dengan akhir tahun, saya kembali membayangkan banyaknya wajah Guangzhou. Kota ini megah, tetapi intim; modern, tetapi berakar kuat pada tradisi; gelisah, tetapi mampu memberikan ketenangan mendalam. Guangzhou lebih dari sekadar metropolis besar, ia adalah kisah hidup tentang ketangguhan, budaya, dan orang-orang yang datang dari berbagai arah untuk mengejar mimpi, mencari kenyamanan, dan merayakan kehidupan dengan caranya sendiri.