Doha
Terasa ada sesuatu yang berbeda dari Doha di bulan Januari. Udara sepertinya lebih ringan, cahaya matahari lebih lembut, dan kota yang biasanya identik dengan panas gurun berubah menjadi tempat yang ramah untuk berjalan kaki.
Begitu turun dari pesawat, angin sejuk menyambut saya. Bukan dingin yang menusuk, tapi kesejukan yang mengajak untuk berkeliling. Musim dingin di Timur Tengah memang punya karakter unik: tidak dramatis seperti di Eropa, tetapi cukup menenangkan untuk membuat kita ingin berada di luar ruangan sepanjang hari. Di Doha, suasana itu terasa paling jelas ketika mulai menjelajahi berbagai sudut kotanya.
Pemberhentian pertama saya adalah Katara Cultural Village. Sejak langkah pertama saya masuk ke kompleks ini, rasanya seperti berjalan menembus perpaduan dua dunia. Arsitekturnya memadukan sentuhan tradisional Qatar dengan elemen modern yang halus. Di satu sisi terlihat masjid dengan kubah dan ukiran yang mengingatkan pada sejarah Timur Tengah. Di sisi lain berdiri galeri seni dengan bentuk kontemporer yang bersih dan tajam.

Januari menjadikan tempat ini jauh lebih nyaman untuk dinikmati; udara sejuk memungkinkan saya berjalan tanpa merasa dikejar panas, dan angin laut sesekali menerpa wajah. Saya menyusuri gang-gang yang mengarah ke teater terbuka, lalu masuk ke salah satu galeri, Visual Art Center, yang menampilkan karya para seniman lokal. Ruangnya sederhana dan tenang, dengan lukisan serta instalasi yang memberi gambaran tentang ekspresi seni kontemporer Qatar. Di sudut lain, informasi tentang lokakarya seni yang rutin digelar terpajang di dinding, memberi kesan bahwa tempat ini bukan hanya ruang pamer, tetapi juga ruang belajar dan bertukar gagasan.
Ketika akhirnya saya tiba di Katara Beach, langit sore menyambut dengan warna keemasan. Banyak orang duduk santai di pasir, sebagian membawa kopi, sebagian hanya menikmati angin laut. Saya pun ikut duduk, merasakan udara yang pas membuat pantai di Doha berubah menjadi tempat yang damai dan asyik untuk merenung.

Keesokan harinya, saya memutuskan untuk pergi ke tempat yang sama sekali berbeda suasananya: Aspire Park. Jika Katara adalah jendela budaya, maka Aspire Park adalah paru-paru kota. Taman ini merupakan taman terbesar di Doha, dan di bulan ini, setiap sudutnya terasa segar-sangat kontras dengan tipikal lanskap gurun yang dimiliki negara ini.
Begitu memasuki gerbang taman, saya melihat hamparan rumput hijau yang luas, deretan pohon yang tertata rapi, dan Aspire Lake yang memantulkan langit biru. Orang-orang berjalan, berlari, atau sekadar duduk lesehan menikmati piknik kecil. Saya memilih jalur pejalan kaki yang mengitari danau, mengikuti langkah santai keluarga dan pasangan yang sedang mendorong anak mereka di atas stroller.
Suasana terasa terapeutik saat berjalan di taman pada musim dingin Doha. Matahari bersinar tanpa menyengat, dan angin sejuk membuat langkah terasa ringan. Di tepi danau, saya melihat sekawanan burung berkumpul, membuat suasana semakin tenang. Taman ini bukan sekadar ruang hijau, tempat penduduk Doha melepaskan lelah, dan wisatawan seperti saya bisa ikut larut dalam ritme pelan kota.
Setelah puas menikmati kesejukan taman, saya lanjut menuju ikon kota Doha yang paling terkenal: Doha Corniche. Rasanya belum lengkap datang ke Doha tanpa berjalan di sepanjang promenade tepi laut ini. Panjangnya membentang beberapa kilometer, mengikuti lekuk garis pantai sambil menawarkan pandangan spektakuler ke arah skyline West Bay, deretan gedung tinggi dengan desain futuristis yang memantulkan cahaya matahari. Awal tahun adalah waktu terbaik untuk menikmati Corniche. Pagi hari, udara sejuk membuatnya ideal untuk jogging atau bersepeda. Saya memilih datang menjelang sore, saat langit berwarna jingga dan angin dari Teluk Arab mulai terasa lebih kuat.
Namun, perjalanan di Doha bukan hanya soal kota dan pantai. Salah satu pengalaman paling khas Qatar adalah menjelajahi padang pasirnya dan Januari adalah bulan terbaik untuk melakukan itu. Maka, hari berikutnya saya mengikuti tur Desert Safari. Mobil 4×4 menjemput saya di hotel, dan setelah keluar dari kota, pemandangan berubah drastis.
Gurun di Qatar punya keindahan minimalis: bukit-bukit pasir berwarna keemasan membentuk gelombang halus. Berkendara di gurun adalah pengalaman yang memicu adrenalin. Mobil naik-turun mengikuti ombak pasir, sesekali miring tajam hingga membuat jantung melonjak. Kami berhenti di salah satu puncak bukit untuk menyaksikan matahari terbenam. Pengalaman ini terasa seperti jeda dari hiruk-pikuk dunia modern.

Bila Anda datang ke Qatar di Januari, ada satu momen langka yang tak boleh dilewatkan, yaitu Brouq Desert Festival. Berlokasi di kawasan Zekreet, di dekat formasi batu dan gurun yang menyerupai background film, festival ini adalah perayaan budaya dan petualangan yang hanya terjadi pada musim dingin. Saya berkesempatan mengunjunginya saat sedang berlangsung, dan suasananya begitu hidup. Tenda-tenda berdiri berjajar, menghadirkan kegiatan mulai dari musik tradisional, pameran budaya, hingga workshop seni lokal.
Pada malam hari, lentera-lentera menyala, musik Arab bergema di udara terbuka, dan angin gurun yang dingin membuat semuanya terasa lebih hangat ketika duduk mengelilingi api unggun. Brouq Desert Festival bukan sekadar acara, tetapi pengalaman yang memperlihatkan sisi berbeda dari Qatar, koneksi antara budaya, komunitas, dan alam gurun yang begitu khas.
Kembali ke kota, saya menyisakan satu hari untuk pengalaman paling “Qatar” dari semuanya: mengunjungi Souq Waqif. Jantung tradisional Doha ini sangat menyenangkan untuk dijelajahi. Tidak ada panas terik yang memaksa mencari tempat teduh, kita bisa berjalan perlahan sambil mengamati aktivitas pasar-menyaksikan potret kehidupan sehari-hari yang terasa autentik dan penuh karakter. Saya mengakhiri malam dengan makan machboos ayam sambil duduk di teras restoran, meresapi momen terakhir dari perjalanan saya.
Doha di bulan Januari terasa seperti rangkaian cerita yang menyatu: budaya, alam, tradisi, modernitas, dan festival gurun yang epik. Jika Anda mencari destinasi yang nyaman dikunjungi di musim dingin, kota ini menawarkan yang terbaik dari semuanya. Doha bukan sekadar kota modern, ia adalah perjalanan yang nyaman, tetapi penuh kejutan di setiap sudutnya. Terbersit tanya di akhir hari, “haruskah saya belok ke Swiss dari sini?”
FIVE SENSES
Machboos (Qatari Kabsa)
Hidangan tradisional Qatar ini telah menjadi bagian penting dari kehidupan sehari-hari masyarakat setempat sejak lama dan kerap hadir dalam jamuan keluarga ataupun perayaan besar. Rasanya kaya dan hangat, terbuat dari nasi berbumbu rempah, daging ayam atau kambing, tomat, serta kapulaga, kayu manis, dan cengkeh. Machboos dimasak perlahan hingga bumbunya meresap, menciptakan aroma yang khas. Ikon kuliner Qatar ini mencerminkan budaya Timur Tengah yang menjunjung kebersamaan.
![]()
National Museum
Dirancang menyerupai desert rose, museum ini menelusuri sejarah Qatar, mulai dari kehidupan nomaden Badui, tradisi maritim dan penyelaman mutiara, hingga penemuan minyak dan lahirnya negara modern. Di dalamnya terdapat artefak bersejarah, film dokumenter, instalasi audiovisual berskala besar, serta ruang interaktif. Kompleks museum juga mencakup istana Sheikh Abdullah bin Jassim Al Thani.
![]()
- Taste
Machboos (Qatari Kabsa)
Hidangan tradisional Qatar ini telah menjadi bagian penting dari kehidupan sehari-hari masyarakat setempat sejak lama dan kerap hadir dalam jamuan keluarga ataupun perayaan besar. Rasanya kaya dan hangat, terbuat dari nasi berbumbu rempah, daging ayam atau kambing, tomat, serta kapulaga, kayu manis, dan cengkeh. Machboos dimasak perlahan hingga bumbunya meresap, menciptakan aroma yang khas. Ikon kuliner Qatar ini mencerminkan budaya Timur Tengah yang menjunjung kebersamaan.

- Sight
National Museum
Dirancang menyerupai desert rose, museum ini menelusuri sejarah Qatar, mulai dari kehidupan nomaden Badui, tradisi maritim dan penyelaman mutiara, hingga penemuan minyak dan lahirnya negara modern. Di dalamnya terdapat artefak bersejarah, film dokumenter, instalasi audiovisual berskala besar, serta ruang interaktif. Kompleks museum juga mencakup istana Sheikh Abdullah bin Jassim Al Thani.
